“Bersamamu”
Oleh : Denada Eka Pratiwi
Kamu sudah tumbuh dewasa seiring
berjalannya waktu. Pilihlah setiap jalan kehidupan yang menurutmu itu baik.
Jangan ikuti jalan yang tak baik, itu akan membuatmu tersesat. Berpikirlah
dewasa layaknya wanita seumurmu.
“Ayah
!!! (melihat sekeliling kamar) apa itu tadi?”, ujarku terbangun dari tidur.
Keringat pun bercucuran di dahiku dan aku kebingungan. Tiba-tiba terdengar
suara dari balik pintu.
“mey
? kamu sudah bangun nak? Ayo sarapan nanti kamu telat kuliahnya.”, suara ibu
yang lembut menyadarkan kebingunganku.
Aku
harus segera siap-siap untuk melakukan aktivitas rutinku ini. Kuliah, kerja
paruh waktu, jadi relawan di puskesmas daerah terpencil di daerahku,
mengerjakan tugas kuliah, jadi penyiar radio lokal, penulis naskah cerpen, dan
tak lupa meluangkan waktu untuk membantu ibu di rumah. Ya, rutinitas itu aku
lakukan sudah beberapa tahun lalu semenjak masuk bangku kuliah. Kini aku sudah
semester V, tinggal menunggu sekitar 3 semester untuk bisa lulus dan meraih
sarjana ilmu pemerintahan (S.Ip).
“permisi
ibu yati, saya ibu Mario tetangga baru sebelah rumah ibu. Sebagai tanda
silaturahmi, saya ingin memberikan ini untuk ibu sekeluarga. Mohon diterima ya
bu.”, ujar bu Mario.
“oh
ya, terima kasih bu Mario. Semoga anda nyaman tingaal diwilayah sini. Kalau anda
perlu bantuan jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada saya.”, ujar ibuku
sedang berbincang dengan ibu Mario tetangga baru sebelah rumahku di depan
rumah.
Aku
hanya asyik menyantap roti tawar dan teh hangat di atas meja sambil mengetik
naskah cerpen yang belum aku selesaikan tadi malam.
“bu,
itu tetangga baru kita? Darimana ia asalnya?”, ujarku.
“iya
nak, bu Mario itu pindahan dari semarang. Ia pindah kesini karena ikut dinas
suaminya.”, ucap ibu sambil memotong kue.
“oohh….”,
ujarku sambil mengunyah roti.
“nih,
kamu bawa kue ini buat bekal kamu di kampus ya,”, kata ibu
“waahh,
brownies? Hemp…ok siap komandan !”. ucapku
sambil mengecup kening ibu.
Mentari
hari itu tak bangun dari tidurnya. Ia tergantikan oleh kumpulan awan abu-abu
yang siap menghantam bumi pagi ini. Senin kelabu, rintik hujan sedikit demi
sedikit berubah menjadi aliran deras yang menghambat setiap orang untuk keluar
rumah.
“aahhh,,kenapa
musti hujan sih? Padahal aku lagi ada deadline hari ini. Bikin badmood.”,
ucapku mengomel didepan rumah.
Rasa
malas pun mulai menghampiriku. Saat aku membalikkan badan hendak masuk kembali
ke rumah, aku teringat kata-kata semalam yang ayah katakan dalam mimpiku. Aku
pun berpikir sejenak. Ayahku benar, aku telah tumbuh menjadi dewasa, aku harus
memilih jalan yang baik, kalau tidak aku akan tersesat. Tak lama aku pun
mengambil jas hujanku lalu berlari dibawah derasnya hujan. Saking derasnya aku berlari
kencang lurus ke depan tanpa tau keadaan sekitarku.
“bruuggg…!!!
Aahh,”. Dan aku pun terjatuh.
“hey
kamu bisa hati-hati ga sih? Sakit tau”, ucapku sambil mengelus lututku yang
agak memar.
“harusnya
kamu yang hati-hati. Sudah tau hujan deras malah lari kencang seenaknya. Sini
biar aku bantu”, suara itu terdengar asing di telingaku.
“Siapa
dia?”, ujarku dalam hati.
Aku
pun membuka penutup atas jas hujanku dan melihat ke arah suara itu. Sosok
lelaki yang ada dihadapku. Aku tak mengenal lelaki itu. Namun melihat uluran
tangannya yang hendak membantuku, aku pun luluh. Kami pun saling berhadapan.
Hening sejenak, seakan waktu terhenti sementara.
Tiitt…tiiittt…
suara klakson bis menyadarkan lamunan kami. Lelaki itu pun menaiki bis tersebut
diikuti aku setelahnya. Karena kursi di bis telah penuh hanya tersisa dua kursi
paling belakang yang kosong, terpaksa aku dan lelaki itu duduk bersebelahan. Kami
hanya membisu selama perjalanan berlangsung. Yang ku perhatikan ia hanya asyik
menatap hujan di balik jendela bis dan sesekali tersenyum. Dan aku hanya bisa
diam menatap naskah cerpenku di laptop yang tak aku sentuh sama sekali.
Mungkinkah ini ?
Sudah
satu bulan lamanya bu Mario tinggal bersebelahan denganku. Ia selalu bersikap
ramah dan sesekali membantu ibu dirumah jika aku tak sempat pulang ke rumah.
Rutinitasku yang terbilang padat membuatku jarang pulang ke rumah. Kalaupun
pulang itu hanya setiap hari jumat malam hingga senin pagi. Maka dari itu aku
tinggal di rumah kontrakanku bersama sepupuku yang juga satu kampus denganku.
Padahal tak terlalu jauh dari rumah bibiku, namun ia selalu ingin menemaniku di
rumah kontrakan.
Malam
itu aku teringat ayah, aku sangat merindukannya. Sudah dua tahun ini ayah pergi
meninggalkanku dan ibuku untuk selamanya. Aku selalu menuruti apa yang ia
amanahkan dalam setiap mimpiku. Air matapun menetes di naskah cerpenku yang
hendak aku kirimkan untuk ayah. Memang aneh, aku tau ini tak akan sampai ke
ayah yang berada jauh di alam yang berbeda denganku. Namun ini seakan menjadi
salah satu rutinitasku semenjak ayah tiada. Entah naskah-naskah yang selama ini
aku kirimkan untuk ayah ada dimana sekarang. Aku mengirimkannya di alamat yang
ayah sampaikan dalam mimpi. Tapi anehnya naskah itu selalu terkirim ke alamat
tersebut. Aku tak tau itu alamat siapa. “kalau kamu rindu ayah, cobalah menuju
alamat ini, disana kamu akan menemukan kebahagiaan untuk masa depanmu,”, hanya
itu yang ayah katakan dalam mimpiku. Aku hanya menuruti saja katanya tanpa
ingin mencoba mengunjungi alamat tersebut.
“nak
meyta, maukah kamu ikut temani ibu mengunjungi rumah ibunya ibu di semarang?”,
ujar bu Mario,
kebetulan
kala itu aku sedang dirumah dan free job, “baik bu, saya akan temani ibu.”. Dengan
mengendarai mobil jazznya ibu Mario melaju menuju semarang bersamaku.
Diperjalanan kami asyik berbincang dan bercanda. Setelah beberapa jam
perjalanan dari Jakarta-semarang, kami pun sampai dirumah ibunya dari ibu Mario.
Aku
di sambut hangat disana. Sambil beristirahat aku berkeliling rumah nenek Mario.
Rumahnya besar dan terlihat kuno namun elegan. Banyak sekali barang antik
disana sini, lukisan, foto keluarga besar, dan aku terpaku pada salah satu foto
lelaki yang duduk disamping bu Mario.
“hey,
mey? Kok melamun?”, ujar bu Mario menepuk bahuku tiba-tiba,
“ahh,
hehe ga apa-apa bu, oh ya kalau boleh tau ini foto siapa bu? (menunjuk gambar
lelaki itu)”,
“oh,
itu anak saya satu-satunya, namanya Mario arjuna. Ia sudah bekerja di bandung
di sebuah restaurant ternama disana.”,
“dia
koki ya bu?”,
“(tersenyum)
bukan nak, ia seorang manajer restaurant. Sudah hampir 5 tahun ia bekerja
disana, walau masih muda tapi ia sudah dipromosikan menjadi manajer sejak
setahun lalu. Ia dulunya bagian marketing.”,
aku
mengangguk kagum mendengar penjelasan dari bu Mario. Lelaki difoto itu yang tak
sengaja aku tabrak di depan halte bis sebulan lalu, aku menyebut cerita itu
sebagai “cerita sang malaikat dibalik hujan”.
Nenek
Mario pun datang menghampiri kami, dan kami pun asyik berbincang mengenai arjuna
dari ia kecil hingga dewasa kini. Sungguh perbincangan yang menarik.
Tiba-tiba
suara klakson mobil terdengar dari depan rumah. Sutiyem, pembantu dirumah nenek
Mario datang menghampiri suara tersebut.
“mbah
putri, ini ada surat lagi dari pak pos, monggo..”, ujar sutiyem memberikannya
pada nenek Mario.
“surat
ini lagi, kali ini cerita apa yang akan penulis ini ceritakan?. Biar arjuna
yang membacanya.”, ucap nenek Mario meletakan surat tersebut di atas rak penuh
dengan surat pos di dalamnya.
“nek,
itu surat untuk arjuna ya?”, ucapku sedikit penasaran.
“bukan
nak, nenek sendiri tak tau itu dari siapa. Sejak tiga tahun lalu surat itu
selalu terkirimkan ke sini. Isinya sebuah cerpen karya seorang penulis yang tak
diketahui namanya. Kebetulan arjuna suka sastra jadinya ia yang selalu antusias
membaca surat tersebut dari tahun ke tahun hingga sekarang.”, ujar nenek Mario
menjelaskan.
Tapi
aku pun semakin penasaran, “apakah ada nama pena atau nama panggilan lain dari
penulis itu nek?”,
“(berpikir)
ada, kalau tidak salah namanya Hana Melodi Greenda”,
Deegg
!!!, jantungku pun tiba-tba terhenti sejenak. “ini tak mungkin ! itu nama
penaku. Apakah selama ini surat yang aku kirimkan itu menuju alamat nenek
Mario? Tak mungkin ! “, ujarku dalam hati.
Untuk
menunjukan kebenarannya aku pun meminta izin untuk bisa membaca salah satu dari
surat tersebut. Betapa terkejutnya aku ternyata selama ini aku mengirimkan
naskah cerpenku ke rumah nenek Mario. Dan semua naskah-naskah ini selalu dibaca
oleh arjuna. Bahkan kata ibu Mario, arjuna sempat mengirimkan beberapa naskah
ini yang akhirnya termuat di salah satu majalah terkenal di semarang. Bukan
maksud ingin membajak karyaku tapi ternyata uang yang di dapat dari naskah itu
arjuna simpan untuk kelak akan diberikannya pada pemilik naskah itu, dan itu
aku. Aku ingat ada salah satu pesanku di akhir naskah untuk ayah, kalau aku dan
ibu kekurangan uang untuk membayar biaya registrasi kuliah dan makan
sehari-hari semenjak kepergian ayah. Mungkin itu tujuan arjuna menyimpan uang
dari hasil muatan naskahku tersebut. aku sungguh tak percaya akan hal ini.
Akhirnya
aku pun menceritakan semua kebenaran dari siapa pemilik naskah itu selama ini.
Ibu Mario dan nenek Mario sempat terkejut dengan penjelasanku. Namun mereka
mampu memahami keadaanku dan ibuku sekarang. Mereka memberiku pelukan dan
sebuah nasehat untukku. Sungguh hangat dan nyaman berada di antara keluarga
Mario ini.
Ternyata
ayahku ialah sahabat dari bapak Mario. Ayahku sering main ke rumah nenek Mario layaknya
saudara dekat. Dua sahabat itu memiliki janji akan menjodohkan masing-masing
anak mereka. Saat perjanjian itu diadakan, aku hadir di rumah nenek Mario yang
kala itu masih berusia 7 bulan, dan arjuna sudah berumur 5 tahun. Ternyata aku
dan arjuna sudah dijodohkan sejak kecil. Mendengar kebenaran yang terjadi,
arjuna sedari tadi sudah mendengar dari balik pintu rumah. Ia datang untuk
membaca surat yang aku kirim. “jadi, kebahagiaan yang ayah maksud ialah lelaki
ini? Lelaki yang akan menjadi masa depanku?”, ucapku dalam hati dengan penuh
haru. Perasaanku dan arjuna pun semakin bergejolak sejak pertemuan pertama
kami. Akhirnya aku dan arjuna mulai untuk saling mengenal dan memahami satu
sama lain. Hingga setahun setelah aku lulus dari kuliah, arjuna melamarku.
Menjelang
hari pernikahan aku dan arjuna meluangkan waktu bersama. Sungguh bahagia aku
dengannya. Seakan kebahagiaan yang aku dapat dari ayah, mampu aku dapat juga
dari arjuna. Kami pun mengenang masa pertama kali bertemu. Ya, di halte bis
dekat rumahku. Dan kebetulan saat itu turun hujan.
“meyta,
kamu sekarang sudah tumbuh menjadi wanita yang dewasa. Setiap langkah yang akan
kamu hadapi untuk hidupmu, jangan sampai salah pilih ya. Aku tau kamu ini
wanita super sibuk yang aku cintai dan aku sayangi. Kamu terkadang selalu
terpeleset mengambil suatu pilihan. Ingat ! jangan salah pilih, nanti kamu
tersesat. (sambil mencubit hidung mungilku)”, ucap arjuna dengan penuh kasih
sayang,
“aahh
sakit tau. Iya arjunaku, ngga kamu atau ayah selalu bilang seperti itu. Tapi
aku rasa aku sudah mengambil pilihan yang tepat. Dan aku tidak akan tersesat.
Karena aku telah memilih kamu untuk menjadi imamku. (tersenyum menatap
arjuna)”,
kami
pun saling menatap dan tersenyum. “aku ingin terus bersamamu hingga akhir
hayatku.”, ucap ku dan arjuna dalam hati kami masing-masing.
“bersamamu…..”,
ucapku dan arjuna bersamaan dalam indahnya melodi rintik hujan menemani kami
kala itu.
THE END
HANA MELODI GREENDA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar