Senin, 23 November 2015

my stories 1

“Bersamamu”
Oleh : Denada Eka Pratiwi

Kamu sudah tumbuh dewasa seiring berjalannya waktu. Pilihlah setiap jalan kehidupan yang menurutmu itu baik. Jangan ikuti jalan yang tak baik, itu akan membuatmu tersesat. Berpikirlah dewasa layaknya wanita seumurmu.
“Ayah !!! (melihat sekeliling kamar) apa itu tadi?”, ujarku terbangun dari tidur. Keringat pun bercucuran di dahiku dan aku kebingungan. Tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu.
“mey ? kamu sudah bangun nak? Ayo sarapan nanti kamu telat kuliahnya.”, suara ibu yang lembut menyadarkan kebingunganku.
Aku harus segera siap-siap untuk melakukan aktivitas rutinku ini. Kuliah, kerja paruh waktu, jadi relawan di puskesmas daerah terpencil di daerahku, mengerjakan tugas kuliah, jadi penyiar radio lokal, penulis naskah cerpen, dan tak lupa meluangkan waktu untuk membantu ibu di rumah. Ya, rutinitas itu aku lakukan sudah beberapa tahun lalu semenjak masuk bangku kuliah. Kini aku sudah semester V, tinggal menunggu sekitar 3 semester untuk bisa lulus dan meraih sarjana ilmu pemerintahan (S.Ip).
“permisi ibu yati, saya ibu Mario tetangga baru sebelah rumah ibu. Sebagai tanda silaturahmi, saya ingin memberikan ini untuk ibu sekeluarga. Mohon diterima ya bu.”, ujar bu Mario.
“oh ya, terima kasih bu Mario. Semoga anda nyaman tingaal diwilayah sini. Kalau anda perlu bantuan jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada saya.”, ujar ibuku sedang berbincang dengan ibu Mario tetangga baru sebelah rumahku di depan rumah.
Aku hanya asyik menyantap roti tawar dan teh hangat di atas meja sambil mengetik naskah cerpen yang belum aku selesaikan tadi malam.
“bu, itu tetangga baru kita? Darimana ia asalnya?”, ujarku.
“iya nak, bu Mario itu pindahan dari semarang. Ia pindah kesini karena ikut dinas suaminya.”, ucap ibu sambil memotong kue.
“oohh….”, ujarku sambil mengunyah roti.
“nih, kamu bawa kue ini buat bekal kamu di kampus ya,”, kata ibu
“waahh, brownies? Hemp…ok siap komandan !”.  ucapku sambil mengecup kening ibu.
Mentari hari itu tak bangun dari tidurnya. Ia tergantikan oleh kumpulan awan abu-abu yang siap menghantam bumi pagi ini. Senin kelabu, rintik hujan sedikit demi sedikit berubah menjadi aliran deras yang menghambat setiap orang untuk keluar rumah.
“aahhh,,kenapa musti hujan sih? Padahal aku lagi ada deadline hari ini. Bikin badmood.”, ucapku mengomel didepan rumah.
Rasa malas pun mulai menghampiriku. Saat aku membalikkan badan hendak masuk kembali ke rumah, aku teringat kata-kata semalam yang ayah katakan dalam mimpiku. Aku pun berpikir sejenak. Ayahku benar, aku telah tumbuh menjadi dewasa, aku harus memilih jalan yang baik, kalau tidak aku akan tersesat. Tak lama aku pun mengambil jas hujanku lalu berlari dibawah derasnya hujan. Saking derasnya aku berlari kencang lurus ke depan tanpa tau keadaan sekitarku.
“bruuggg…!!! Aahh,”. Dan aku pun terjatuh.
“hey kamu bisa hati-hati ga sih? Sakit tau”, ucapku sambil mengelus lututku yang agak memar.
“harusnya kamu yang hati-hati. Sudah tau hujan deras malah lari kencang seenaknya. Sini biar aku bantu”, suara itu terdengar asing di telingaku.
“Siapa dia?”, ujarku dalam hati.
Aku pun membuka penutup atas jas hujanku dan melihat ke arah suara itu. Sosok lelaki yang ada dihadapku. Aku tak mengenal lelaki itu. Namun melihat uluran tangannya yang hendak membantuku, aku pun luluh. Kami pun saling berhadapan. Hening sejenak, seakan waktu terhenti sementara.
Tiitt…tiiittt… suara klakson bis menyadarkan lamunan kami. Lelaki itu pun menaiki bis tersebut diikuti aku setelahnya. Karena kursi di bis telah penuh hanya tersisa dua kursi paling belakang yang kosong, terpaksa aku dan lelaki itu duduk bersebelahan. Kami hanya membisu selama perjalanan berlangsung. Yang ku perhatikan ia hanya asyik menatap hujan di balik jendela bis dan sesekali tersenyum. Dan aku hanya bisa diam menatap naskah cerpenku di laptop yang tak aku sentuh sama sekali. Mungkinkah ini ?
Sudah satu bulan lamanya bu Mario tinggal bersebelahan denganku. Ia selalu bersikap ramah dan sesekali membantu ibu dirumah jika aku tak sempat pulang ke rumah. Rutinitasku yang terbilang padat membuatku jarang pulang ke rumah. Kalaupun pulang itu hanya setiap hari jumat malam hingga senin pagi. Maka dari itu aku tinggal di rumah kontrakanku bersama sepupuku yang juga satu kampus denganku. Padahal tak terlalu jauh dari rumah bibiku, namun ia selalu ingin menemaniku di rumah kontrakan.
Malam itu aku teringat ayah, aku sangat merindukannya. Sudah dua tahun ini ayah pergi meninggalkanku dan ibuku untuk selamanya. Aku selalu menuruti apa yang ia amanahkan dalam setiap mimpiku. Air matapun menetes di naskah cerpenku yang hendak aku kirimkan untuk ayah. Memang aneh, aku tau ini tak akan sampai ke ayah yang berada jauh di alam yang berbeda denganku. Namun ini seakan menjadi salah satu rutinitasku semenjak ayah tiada. Entah naskah-naskah yang selama ini aku kirimkan untuk ayah ada dimana sekarang. Aku mengirimkannya di alamat yang ayah sampaikan dalam mimpi. Tapi anehnya naskah itu selalu terkirim ke alamat tersebut. Aku tak tau itu alamat siapa. “kalau kamu rindu ayah, cobalah menuju alamat ini, disana kamu akan menemukan kebahagiaan untuk masa depanmu,”, hanya itu yang ayah katakan dalam mimpiku. Aku hanya menuruti saja katanya tanpa ingin mencoba mengunjungi alamat tersebut.
“nak meyta, maukah kamu ikut temani ibu mengunjungi rumah ibunya ibu di semarang?”, ujar bu Mario,
kebetulan kala itu aku sedang dirumah dan free job, “baik bu, saya akan temani ibu.”. Dengan mengendarai mobil jazznya ibu Mario melaju menuju semarang bersamaku. Diperjalanan kami asyik berbincang dan bercanda. Setelah beberapa jam perjalanan dari Jakarta-semarang, kami pun sampai dirumah  ibunya dari ibu Mario.
Aku di sambut hangat disana. Sambil beristirahat aku berkeliling rumah nenek Mario. Rumahnya besar dan terlihat kuno namun elegan. Banyak sekali barang antik disana sini, lukisan, foto keluarga besar, dan aku terpaku pada salah satu foto lelaki yang duduk disamping bu Mario.
“hey, mey? Kok melamun?”, ujar bu Mario menepuk bahuku tiba-tiba,
“ahh, hehe ga apa-apa bu, oh ya kalau boleh tau ini foto siapa bu? (menunjuk gambar lelaki itu)”,
“oh, itu anak saya satu-satunya, namanya Mario arjuna. Ia sudah bekerja di bandung di sebuah restaurant ternama disana.”,
“dia koki ya bu?”,
“(tersenyum) bukan nak, ia seorang manajer restaurant. Sudah hampir 5 tahun ia bekerja disana, walau masih muda tapi ia sudah dipromosikan menjadi manajer sejak setahun lalu. Ia dulunya bagian marketing.”,
aku mengangguk kagum mendengar penjelasan dari bu Mario. Lelaki difoto itu yang tak sengaja aku tabrak di depan halte bis sebulan lalu, aku menyebut cerita itu sebagai “cerita sang malaikat dibalik hujan”.
Nenek Mario pun datang menghampiri kami, dan kami pun asyik berbincang mengenai arjuna dari ia kecil hingga dewasa kini. Sungguh perbincangan yang menarik.
Tiba-tiba suara klakson mobil terdengar dari depan rumah. Sutiyem, pembantu dirumah nenek Mario datang menghampiri suara tersebut.
“mbah putri, ini ada surat lagi dari pak pos, monggo..”, ujar sutiyem memberikannya pada nenek Mario.
“surat ini lagi, kali ini cerita apa yang akan penulis ini ceritakan?. Biar arjuna yang membacanya.”, ucap nenek Mario meletakan surat tersebut di atas rak penuh dengan surat pos di dalamnya.
“nek, itu surat untuk arjuna ya?”, ucapku sedikit penasaran.
“bukan nak, nenek sendiri tak tau itu dari siapa. Sejak tiga tahun lalu surat itu selalu terkirimkan ke sini. Isinya sebuah cerpen karya seorang penulis yang tak diketahui namanya. Kebetulan arjuna suka sastra jadinya ia yang selalu antusias membaca surat tersebut dari tahun ke tahun hingga sekarang.”, ujar nenek Mario menjelaskan.
Tapi aku pun semakin penasaran, “apakah ada nama pena atau nama panggilan lain dari penulis itu nek?”,
“(berpikir) ada, kalau tidak salah namanya Hana Melodi Greenda”,
Deegg !!!, jantungku pun tiba-tba terhenti sejenak. “ini tak mungkin ! itu nama penaku. Apakah selama ini surat yang aku kirimkan itu menuju alamat nenek Mario? Tak mungkin ! “, ujarku dalam hati.
Untuk menunjukan kebenarannya aku pun meminta izin untuk bisa membaca salah satu dari surat tersebut. Betapa terkejutnya aku ternyata selama ini aku mengirimkan naskah cerpenku ke rumah nenek Mario. Dan semua naskah-naskah ini selalu dibaca oleh arjuna. Bahkan kata ibu Mario, arjuna sempat mengirimkan beberapa naskah ini yang akhirnya termuat di salah satu majalah terkenal di semarang. Bukan maksud ingin membajak karyaku tapi ternyata uang yang di dapat dari naskah itu arjuna simpan untuk kelak akan diberikannya pada pemilik naskah itu, dan itu aku. Aku ingat ada salah satu pesanku di akhir naskah untuk ayah, kalau aku dan ibu kekurangan uang untuk membayar biaya registrasi kuliah dan makan sehari-hari semenjak kepergian ayah. Mungkin itu tujuan arjuna menyimpan uang dari hasil muatan naskahku tersebut. aku sungguh tak percaya akan hal ini.
Akhirnya aku pun menceritakan semua kebenaran dari siapa pemilik naskah itu selama ini. Ibu Mario dan nenek Mario sempat terkejut dengan penjelasanku. Namun mereka mampu memahami keadaanku dan ibuku sekarang. Mereka memberiku pelukan dan sebuah nasehat untukku. Sungguh hangat dan nyaman berada di antara keluarga Mario ini.
Ternyata ayahku ialah sahabat dari bapak Mario. Ayahku sering main ke rumah nenek Mario layaknya saudara dekat. Dua sahabat itu memiliki janji akan menjodohkan masing-masing anak mereka. Saat perjanjian itu diadakan, aku hadir di rumah nenek Mario yang kala itu masih berusia 7 bulan, dan arjuna sudah berumur 5 tahun. Ternyata aku dan arjuna sudah dijodohkan sejak kecil. Mendengar kebenaran yang terjadi, arjuna sedari tadi sudah mendengar dari balik pintu rumah. Ia datang untuk membaca surat yang aku kirim. “jadi, kebahagiaan yang ayah maksud ialah lelaki ini? Lelaki yang akan menjadi masa depanku?”, ucapku dalam hati dengan penuh haru. Perasaanku dan arjuna pun semakin bergejolak sejak pertemuan pertama kami. Akhirnya aku dan arjuna mulai untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain. Hingga setahun setelah aku lulus dari kuliah, arjuna melamarku.
Menjelang hari pernikahan aku dan arjuna meluangkan waktu bersama. Sungguh bahagia aku dengannya. Seakan kebahagiaan yang aku dapat dari ayah, mampu aku dapat juga dari arjuna. Kami pun mengenang masa pertama kali bertemu. Ya, di halte bis dekat rumahku. Dan kebetulan saat itu turun hujan.
“meyta, kamu sekarang sudah tumbuh menjadi wanita yang dewasa. Setiap langkah yang akan kamu hadapi untuk hidupmu, jangan sampai salah pilih ya. Aku tau kamu ini wanita super sibuk yang aku cintai dan aku sayangi. Kamu terkadang selalu terpeleset mengambil suatu pilihan. Ingat ! jangan salah pilih, nanti kamu tersesat. (sambil mencubit hidung mungilku)”, ucap arjuna dengan penuh kasih sayang,
“aahh sakit tau. Iya arjunaku, ngga kamu atau ayah selalu bilang seperti itu. Tapi aku rasa aku sudah mengambil pilihan yang tepat. Dan aku tidak akan tersesat. Karena aku telah memilih kamu untuk menjadi imamku. (tersenyum menatap arjuna)”,
kami pun saling menatap dan tersenyum. “aku ingin terus bersamamu hingga akhir hayatku.”, ucap ku dan arjuna dalam hati kami masing-masing.
“bersamamu…..”, ucapku dan arjuna bersamaan dalam indahnya melodi rintik hujan menemani kami kala itu.

THE END
HANA MELODI GREENDA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar